Langsung ke konten utama
Kotak idiot yang bukan diot
Kita mengenal televise sebagai sarana informasi yang utama. Mulai dari rumah biasa sampai rumah mewah pun pasti ada televise. Seiring dengan berkembangnya zaman, maka sudah selayaknya masalah akan kembali meurntut, mulai darei pergeseran nilai-nilai moral yang bersignifikan terhadap kepentingan si perodusen televise, sampai-sampai ke ranah permasalahan remaja. Pelan tapi pasti. Semua akan beruntun sesuai dengan perputaran zaman. Kita bisa memilah bagaimana menggunakan teknologi secara benar. Sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas serta tingkat pengetahuan masyarakat terhadap televise. Tidak mengklaim bahwa televise adalah  barang sampah yang mesti di buang. Tidak, alangkah baiknya kita menggunakan teknologi secara bijak. Kata ibu saya seperti itu. Hehe
Kawan, menyimak televise jangan dilihat dari aspek negative saja. Ada biknya mita mnegkaji denagan ranah yang positif. Kita lihat berbagai macaqm acara yang dipersembahkan oleh produksi tv kepada analogi disfusi. Difusi adalah pembiasan. Mengapa dikaitkan dengan informasi? Karena inovasi adalah yang bersifat baru. Tipe komunikasi dalam menyampaikan pesan yang bersifat baru. Dalam suatu teknologi pembelajaean, banyka cara untuk menyampaikan informasi kepada masyakarak. Adakalanya mereka akan menolak. Bagaimana kepada seorang pendidik dalam menanggapi hal ini?
Inovasi bukan hanya menjadai hal yang bru dalam kehidupan. Tetapi apa yang belum kita ketahui bahkan sudahberlalu itu tetap menjadi sumber informasi. Missal, saat guru menjel;aslakan dengan menulis di papan tulis, maka alokasi waktunya tidak digunakan secara efisien. Berbeda bila kita menggunakan power point, kita bisa mengehmat waktu dan murid-murid selain mengandalkan audio mereka juga mengandalakan visual.
Sejatinya. Dalam memilah teknologi buatlah mental yang selalu bersinegri dengan kaidah moral kita. Jangan terlalu bersikap terbuka dalam menerima informasi dari luar. Sebab, infprmasi yang di uar merupakan bahan mentah yang masih belum doi olah dan masih belum kita sinergikan dengan kebudayaan kita. Kita harus bisa menyaring informasi mana yang cocok mana yang tidak.





Komentar